Engineering; Game; Sosial; Blogging; Lingkungan; Kuliah; Psikologi Populer; Download; Sejarah; Film; Umum| SELAMAT DATANG DI GUNARMAN.BLOGSPOT.COM| Blog kecil padat informasi|
Tampilkan postingan dengan label Engineering. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Engineering. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Mei 2016

Realita Sarjana Teknik Indonesia di Dunia Kerja

Hal pertama yang harus kita semua pahami bahwa tidak murah apalagi mudah untuk menjadi seorang sarjana. Hal kedua yang juga patut dicamkan adalah bahwa jenjang akademis dan profesi merupakan dua hal yang berbeda. Lulusan S1 Kedokteran bergelar sarjana kedokteran (S. Ked) sedangkan sarjana kedokteran yang bekerja di bidang kedokteran bergelar Dokter. Rata-rata fresh graduate berpikir, makin tinggi jenjang akademis maka akan kian mudahlah dalam mencari kerja, padahal tidak begitu. Mereka pikir industri menilai S2, S3, dan seterusnya merupakan indikasi level profesionalisme. Dunia kerja hanya mempersyaratkan fresh graduate berpendidikan S1 atau setara dengan penguasaan beberapa keahlian spesifik dan akan jauh lebih baik lagi bila diimbuhi sedikit pengalaman kerja di bidang terkait.

Pola pikir “Jenjang akademis = jenjang profesi” malah menjadikan kita terlalu fokus pada nilai dan mengabaikan ilmu. Kita belajar untuk ujian (menghafal) bukannya untuk paham. Alhasil begitu selesai ujian segala materi kuliah yang sudah susah-payah dipelajari menguap entah ke mana. Kita menganggap kian cepat lulus plus IPK di atas rata-rata akan menempatkan kita pada ranking teratas di tiap lowongan. Industri memang mempersyaratkan IPK tapi, nilainya rata-rata cukup 3,00 saja. Segala keganjilan paradigma ini membawa sebagian besar sarjana Indonesia terjerumus dalam status “Tenaga kerja berijazah” dan bukan “Tenaga kerja terdidik”.

Nistanya status ini sudah saya temui sendiri dalam pekerjaan sebagai konsultan teknik. Rasa heran bercampur geram berkecamuk di hati dan pikiran saya tatkala tiap kali melihat dokumen-dokumen perencanaan yang miskin (kalau tidak mau dibilang nihil) unsur analisis keilmuannya. Semuanya dibuat tipikal, dalam artian desain dan perhitungannya mengikuti apa yang sudah ada belaka. Misalnya jika kita merancang jembatan maka bukan analisa-analisa matematika teknik super jelimet yang keluar dalam dokumen tersebut melainkan hanya asumsi-asumsi cap-cip-cup. Tinggal lihat spesifikasi, pilih jenis jembatan apa, lebarnya berapa, bentangnya berapa, dan kategori bebannya apa, dst lalu buat gambar kerja dan RAB. Semuanya sudah tinggal cocok-cocokan, “Jika bebannya sekian maka bahan bakunya ... ; jika bentangya sekian maka kualitas betonnya ...” begitu instannya.

Kalau sudah begini dunia kerja sarjana teknik, wajar saja orang-orang enteng berujar, “Konsultan teknik itu modalnya cuma kertas.” dan saya agak sulit untuk tidak tersinggung dengan pernyataan tersebut. Sudah desainnya tipikal, tidak jarang kurang cocok dengan penerapannya di lapangan pula. Kontraktor yang biasa menemui desain ngaco konsultan teknik memegang sejenis etika ‘tak tertulis untuk tidak lekas mengajukan ubah kontrak (misalnya ketika konstruksi baru berjalan seminggu) lantaran pelaksanaan pasti meleset jauh dari perencanaan. Kontraktor biasanya baru mengubah kontrak sekitar setengah perjalanan konstruksi, semata demi melindungi para perencana dan pejabat pengesah produk perencana dari temuan auditor maupun penegak hukum.

Pengalaman getir mengerjakan produk konsultan teknik juga pernah saya dengar langsung dari seorang kontraktor spesialis air minum. Dia menceritakan, pernah suatu kali ia menemui proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) yang tujuannya untuk mengalirkan air permukaan ke area distribusi namun, dalam dokumen perencanaanya tidak terdapat intake (bangunan penyadap air). Bagaimana bisa air permukaan masuk ke pipa kalau tidak ada intake? Ujungnya kontraktor ini mau-tidak mau harus membangun intake bendung yang jelas-jelas tidak dihitung dalam nilai kontrak. Karena melaksanakan volume kerja ekstra dengan nilai kontrak tetap, kontraktor ini menderita besar dengan hanya mendapat keuntungan lima juta rupiah saja. Lagi-lagi kontraktor tidak mau mengajukan ubah kontrak karena ingin melindungi perencana dan pejabat pengesah produk perencana. Saya tidak tahu apa perencanaan tersebut benar dikerjakan sarjana teknik atau bukan, sebab kalau iya maka jelas ini sangat memalukan.

Itu baru cerita dari para kontraktor belum lagi dari cerita saya yang bekerja sama dengan konsultan-konsultan teknik senior. Saya, terus terang, sangat kecewa ketika menemui bahwa panjangnya pengalaman kerja di bidang teknik ternyata tidak membuat ilmu seorang sarjana teknik makin dalam dan komprehensif, justru sebaliknya. Berbelas-belas tahun pengalaman kerja di bidang teknik, malah membuat para sarjana teknik ini kian melupakan analisa-analisa teknik. Kasar kata, sarjana-sarjana teknik ini kian tahun bekerja teknik kian pola pikirnya merosot hingga selevel mandor atau bahkan tukang.

Makin lucu lagi ketika ada konsultan teknik senior merasa tidak mau kalah dengan saya yang baru kemarin sore jadi konsultan teknik. Kali ini kasusnya adalah menghitung estimasi biaya proyek. Kebetulan proyek tersebut nilainya ratusan miliar. Saya dari awal mengajak beliau untuk berpikir simpel dengan mengambil beberapa asumsi-asumsi saja karena memang taksiran akurat baru bisa jatuh setelah detail engineering design (detail desain teknis). OK! Saya turuti orang tua ini. Hari demi hari berjalan dan deadline terus mendekat namun apa yang selesai dihitungnya baru beberapa item saja. Saya tidak bisa terlalu banyak bantu karena estimasi tersebut bidangnya sarjana teknik sipil.

Sampailah kami pada deadline dan hasil estimasi harus sudah dikaji oleh  Boss. Begitu rapat, si Boss dengan lancar mengeluarkan asumsi-asumsinya yang memang berdasarkan puluhan tahun pengalaman beliau di bidang air minum. Kami pun langsung menghitung asumsi-asumsi tersebut. Akhirnya estimasi selesai dalam hitungan jam dan siap dikirim ke Kementerian. Apa yang coba saya sampaikan adalah, rekan saya yang konsultan teknik senior ini kalau diajak berpikir simpel tidak mau (mungkin karena takut dinilai kurang pakar) tapi, diajak berpikir rumit (analitis) juga tidak mampu.

Maka jangan heran kalau ada sarjana ekonomi yang pernah ikut kontraktor sekian belas tahun berani bicara sok analisa teknis di depan para sarjana teknik. Sebab beliau sudah ukur rata-rata isi otak sarjana teknik. Jadi jangan tersinggung juga kalau beliau bilang, “Dosen teknik sipil pun belum tentu bisa mendesain jembatan.”! Pernyataan orang non-sarjana teknik yang bernada menantang bahkan melecehkan seperti ini memang wajar kita evaluasi. Seorang konsultan teknik senior lain juga sempat curhat bahwa kesarjanaanya tidak dipandang oleh khalayak. Bila merunut dari cerita-cerita di atas rasanya aneh kalau Om ini mengeluh begitu.

Akhir kata, bagi siapapun yang membaca tulisan panjang ini, tidak ada sedikitpun maksud saya untuk menganggap diri lebih baik dan benar dari rekan sarjana teknik lain. Saya hanya ingin pada siapapun rekan sarjana teknik yang bekerja atau nantinya berminat kerja di bidang teknik untuk terus menjaga wibawa fakultas kita. Kuliah bukan hanya cari ijazah. Kuliah itu seperti mencari bocoran pengalaman ribuan praktik orang terdahulu supaya ke depannya di dunia kerja kita tidak sering melakukan trial and error. Jadi sesungguhnya (oleh industri) kita diharapkan harus langsung paham jika diberi satu-dua kali arahan, karena sudah dapat bocoran pengalaman orang selama di bangku kuliah.

Rabu, 24 Februari 2016

Perhitungan Untuk Menentukan Diameter Pipa Transmisi

Memilih diameter pipa transmisi merupakan salah satu tahap kunci dalam tiap perencanaan kegiatan air minum. Dasar-dasar menentukan diameter pipa transmisi ini harus benar-benar dipahami anak Teknik Lingkungan. Lalu apa saja langkah-langkah dan data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan perhitungan diameter pipa transmisi? Mari, langsung saja kita mulai contoh perhitungannya!

Diketahui:
Jumlah penduduk yang akan dilayani     : 1100 orang
Kebutuhan air per orang                         : 60 lt/orang/hari
Kebutuhan lainnya                                   : 20%
Faktor hari maksimum (fhm)                   : 1,15
Elevasi intake                                           : 130 mdpl
Elevasi reservoir                                      : 90 mdpl
Jarak intake-reservoir                              : 3500 m
Koefisien kekasaran pipa (C)                  : 120

Kriteria penentuan kebutuhan air per orang dapat anda lihat pada tabel di bawah ini:
Sumber: Dirjen Cipta Karya Kementerian PU 1994

Sedangkan untuk faktor hari maksimum anda dapat menggunakan rentang 1-1,15.

Selanjutnya, kita masukkan angka-angka tersebut ke dalam rumus yang ada di bawah:

D = ( {3,59 x 106 x Qmaks} / {C x S0,54} )0,38

D         : Diameter pipa transmisi
C         : Koefisien kekasaran pipa
Qmaks  : Debit maksimal yang akan melalui pipa
S         : Slope atau persentase kemiringan pipa


Perhitungan:

Kebutuhan air rata-rata (Qr)
Qr = (1100 orang x 60 lt/orang/hari)/86400 detik
Qr = 0,76 lt/detik

Kebutuhan air lainnya (Ql)
Ql = 20% x 0,76 lt/detik
Ql = 0,15 lt/detik

Kebutuhan harian maksimal (Qmaks) menurut faktor harian maksimum (fhm)
Qmaks = (0,76 lt/detik + 0,15 lt/detik) x 1,15
Qmaks = 1,05 lt/detik

Slope (S)
S = (40 m/3500 m) x 100%
S = 1,14%

Maka:
D = ( {3,59 x 106 x 1,05} / {120 x 1,140,54} )0,38
D = 49,71 mm ≈ 50 mm

Guna pengecekkan lebih akurat, hitungan kasar ini selanjutnya akan disimulasikan di EPANET.


Catatan:
            Dalam penerapannya, debit sering kali sudah langsung ditentukan oleh pihak perencana, misalnya Dinas PU, dengan besaran seperti 20 lt/detik, 15 lt/detik, 50 lt/detik, dsbg.

Selasa, 23 Februari 2016

Teknik Lingkungan: Kuliah dan Penerapannya di Dunia Kerja

Halo bagi kalian semua alumni, mahasiswa, maupun calon anak Teknik Lingkungan! Dalam artikel ini saya hendak berbagi pengalaman kerja saya yang masih seumur jagung di bidang Teknik Lingkungan. Saya kebetulan saat ini tengah bekerja sebagai konsultan Teknik Lingkungan. Menurut saya pribadi untuk ukuran Teknik, materi kuliah Teknik Lingkungan tidaklah begitu berat namun entah kenapa peminat Teknik Lingkungan belum begitu banyak padahal, bidang ini belakangan makin dibutuhkan. Ditambah lagi, tidak sedikit alumni Teknik Lingkungan yang malah berkarier di luar bidang lingkungan.

Jika memang begitu dibutuhkan, lantas (1) kenapa banyak alumni Teknik Lingkungan malah kerja di luar ranahnya? (2) Kenapa dengan melimpahnya lowongan ini hanya sedikit yang menyerap anak Teknik Lingkungan? (3) Apa sebenarnya bidang kerja yang memerlukan keahlian Teknik Lingkungan? (1) Saya tidak bisa memberi musabab pasti kenapa alumni Teknik Lingkungan banyak yang kerja di luar ranahnya tapi, berdasarkan pengalaman pribadi bisa saya simpulkan bahwa iklan lowongan khusus Teknik Lingkungan begitu sedikit bila dibanding lowongan untuk jurusan lain, misalnya akuntansi. Salah satu iklan lowongan yang umum diperuntukkan lulusan Teknik Lingkungan adalah staff K3. Tapi, syarat yang dipatok bagi pelamar staff K3 tidak masuk akal bagi lulusan baru Teknik Lingkungan. Rata-rata lowongan staff K3 mempersyaratkan pengalaman di bidang K3 minimal setahun plus sertifikat pelatihan K3 entah itu SMK3 atau OHSAS. Untuk lebih detail anda bisa cari sendiri syarat untuk ikut pelatihan SMK3 dan OHSAS di internet!

Selain staff K3, lowongan lain yang butuh anak Teknik Lingkungan adalah staff WTP dan WWTP. Namun, kedua lowongan ini sayangnya jarang ada. (2) Penyebab banyaknya lowongan Teknik Lingkungan kurang menyerap alumninya beberapa di antaranya sudah dijawab di atas lalu, sisanya lantaran lowongan-lowongan Teknik Lingkungan lainnya disediakan Instansi Pemerintah. Sudah jadi rahasia umum kalau lowongan itu digelar Instansi Pemerintah maka yang bisa mengisinya pasti orang-orang terdekat para Pejabat Pengadaan terkait saja. Lantaran kurangnya pengumuman maka, tidak heran pula lowongan-lowongan ini sulit terdeteksi para lulusan Teknik Lingkungan. Selain itu juga nyaris semua lowongan tersebut membutuhkan sekian tahun pengalaman kerja di bidang Lingkungan beserta Surat Keterangan Ahli (SKA).

Untuk mulai punya pengalaman kerja di bidang lingkungan pastinya anda harus pernah bekerja dulu di salah satu perusahaan jasa konsultansi lingkungan. Dengan kata lain, untuk melamar lowongan-lowongan lingkungan dari Instansi Pemerintah anda harus benar-benar mulai dari bawah. (3) Bidang kerja yang memerlukan keahlian Teknik Lingkungan antara lain: pengolahan air buangan industri, pengelolaan air minum, sanitasi masyarakat, dan satu yang sudah disebutkan di atas yaitu K3.

Apa yang bisa kalian siapkan semenjak di bangku kuliah bila memang bercita-cita bergerak di dunia Teknik Lingkungan adalah pengetahuan yang komprehensif mengenai seluruh mata kuliah. Jika kalian memang ingin jadi konsultan Teknik Lingkungan pengetahuan yang harus kalian dalami ialah seputar air minum. Belajarlah cara menentukan dimensi pipa, ilmu pengolahan air minum, merancang bangunan pengolahan air minum, dan perencanaan-perencanaan pelayanannya! Selain itu jangan lupa perbanyak bacaan terkait sanitasi masyarakat! Pahami dasar-dasar hukum bagi perencanaan air minum dan sanitasi! Selama di bangku kuliah kuasai Microsoft Office sebaik mungkin karena ini salah satu senjata konsultan lingkungan! Jangan pula malas mengasah Bahasa Inggris kalian!

Kerja di bidang Teknik Lingkungan tidak sesulit kuliahnya. Percayalah! Misalnya tentang perencanaan bangunan air minum. Kita tidak perlu repot-repot menjelaskan alternatif pengolahan hingga perhitungan saluran-saluran unit bangunan pengolahan karena Pemerintah biasa membeli IPA jadi sesuai dengan debit yang mereka rencanakan. Walau begitu, ilmu Teknik Lingkungan tetap harus mengakar di kepala anda! Untuk apa? Supaya kalian bisa lebih kritis menyikapi data. Contohnya, hanya anak Teknik Lingkungan yang bisa menstandarkan data perencanaan air minum. Data sering kali tidak begitu rinci dan yang bisa mendetailkannya cuma orang yang memiliki pengetahun Teknik Lingkungan.

            Tidak hanya semata akademis yang harus mahasiswa Teknik Lingkungan siapkan bila ingin kerja di bidang Teknik Lingkungan namun juga relasi dengan alumni dan teman-teman lain sejurusan. Simpan semua kontak kawan sejurusan anda termasuk para Dosen! Ini penting karena kita tidak tahu kelak kita mungkin begitu membutuhkan mereka. Buatlah grup Facebook khusus teman jurusan seangkatan dan rekan sejurusan pada umumnya! Sebab ini akan menjaga koneksi dan aliran informasi kalian!

Sabtu, 16 Mei 2015

Menariknya S1 Teknik Lingkungan

Kunjungan mahasiswa teknik lingkungan
di PDAM Way Rilau, Bandar Lampung
Bagi teman-teman yang akan atau baru lulus SMA dan bingung ingin mengambil jurusan kuliah apa nanti, saya punya sedikit saran. Jika kalian senang kuliah yang membutuhkan analisa, sulit tapi tidak terlalu, bermasa depan cerah, berorientasi lapangan, serta butuh gabungan kecerdasan spasial dan logika/matematika maka S1 teknik lingkunganlah jawabannya. Teknik lingkungan secara umum belajar tentang menjauhkan lingkungan dari dampak buruk kegiatan manusia dan manusia dari dampak buruk lingkungan. Teknik lingkungan merupakan penerapan matematika, fisika, biologi, kimia, kesehatan, ilmu bangunan, dan manajemen. Subjek-subjek yang disebutkan barusan tidak dipelajari secara mendalam. Hanya bagian-bagian yang beririsan dengan lingkungan saja yang dibahas.

            Bisa dibilang kalau dibanding teknik lainnya teknik lingkungan relatif ringan. Maka, bagi kalian yang cewek dan ingin mencari tantangan, teknik lingkungan bisa jadi pilihan. Seperti sarjana teknik umumnya, kelak bila lulus S1 teknik lingkungan pola pikir kalian akan lebih terstruktur dan terarah. Meski tiap disiplin ilmu penyusun teknik lingkungan tidak dipelajari mendetail namun, teknik lingkungan tetaplah bidang yang khusus. Masa-masa tersibuk mahasiswa teknik lingkungan ialah saat merancang bangunan instalasi air baik itu minum atau limbah serta ketika menyusun skripsi—di luar itu lumayan santai. Hal yang menyatukan teknik lingkungan dengan teknik lainnya adalah kalkulus. Prospek kerja teknik lingkungan amat luas, sama seperti jurusan teknik lainnya. Asalkan kalian mengembangkan diri dengan benar selama kuliah dan mencapai IPK minimal 3.00 maka akan ada sedikit kelegaan saat lulus sebagai sarjana teknik lingkungan.



Artikel lain terkait teknik lingkungan:

Selasa, 17 Februari 2015

Adsorben

Supaya secara teknis efektif dalam proses komersial pemisahan, baik itu pemisahan zat atau pemurnian, material adsorben harus memiliki volume internal tinggi yang mana memungkinkan dimasuki oleh partikel yang ingin direduksi dari larutan. Contoh padatan berpori tinggi diantaranya adalah karbon atau zat anorganik di alam dan bahan sintetis atau yang memang secara alami terbentuk yang dalam kesempatan tertentu mungkin memiliki penyaring berukuran molekular. Adsorben juga harus memiliki kemampuan mekanikal yang baik seperti kekuatan serta ketahanan terhadap pengikisan dan wajib pula punya kemampuan kinetik yang bagus. Adsorben harus mampu mentransfer molekul adsorbat secara cepat menuju titik adsorpsi. Pada banyak penerapan, adsorben harus diregenerasi setelah digunakan dan oleh karenanya sangat diharapkan regenerasi adsorben bisa dilakukan secara efisien tanpa merusak kemampuan mekanikal dan adsorpsi. Bahan mentah dan metode produksi adsorben haruslah murah supaya suskes bersaing secara ekonomi dengan alternatif proses pemisahan lainnya (Critenden dkk, 1998).
            Permukaan internal adsorben yang luas akan meningkatkan kapasitas penyerapan yang mana mendukung kesuksesan proses pemisahan atau pemurnian. Adsorben bisa dibuat dengan luas permukaan internal yang berkisar antara sekitar 100 m2/g sampai dengan lebih dari 3000 m2/g. Demi aplikasi praktis, bagaimanapun, kisaran tersebut normalnya dibatasi menjadi sekitar 300-1200 m2/g. Untuk kebanyakan adsorben, luas permukaan internal terjadi karena banyaknya pori dalam beragam ukuran. Banyak material adsorben seperti karbon, jel silika, atau alumina, berbentuk tidak teratur dan mengandung jaringan mikropori, mesopori, dan makropori yang kompleks serta saling terhubung (Critenden dkk, 1998).

Gambar 1: Ilustrasi struktur partikel adsorben dalam kaitannya
dengan resistensi terhadap material fluida. (Sumber: Critenden dkk, 1998)

Kebalikannya, adsorben zeolit memiliki pori yang ukurannya teratur meskipun struktur makropori tersebut dibentuk ketika pelet zeolit diolah dari kristal zeolit dengan penambahan bahan pengikat. Molekul cair sebelum diadsorpsi oleh permukaan internal adsorben harus terlebih dulu melewati cairan film yang berada di luar partikel adsorben untuk selanjutnya menuju struktur makropori, lalu terus ke mikropori di mana molekul teradsorpsi (Critenden dkk, 1998).
            Ukuran pori umumnya digolongkan ke dalam tiga rentang: makropori dengan diameter pori lebih dari 50 nm, mesopori (dikenal juga sebagai pori transisional) memiliki diameter pori berkisar antara 2-50 nm, dan mikropori yang memiliki diameter lebih kecil dari 2 nm. Pori-pori paling besar di struktur internal adsorben umumnya punya rentang ukuran submikron dan mereka hanya dihitung sebagian saja dari total volume.

Gambar 2: Distribusi ukuran pori: (a) Zeolit 3A, (b) 4A, (c) 5A, (d) 10X, (e) 13X,
(f) saringan molekular karbon, dan (g) karbon aktif. (Sumber: Critenden dkk, 1998)

Luas permukaan material adsorben lazimnya diukur lewat adsorpsi nitrogen pada suhu cair nitrogen (-196,150C). Hasil pengukuran tersebut kemudian diinterpretasi menggunakan isoterm BET. Volume pori adsorben dapat diukur lewat pengukuran jumlah adsorbat, seperti nitrogen, yang teradsorpsi pada tekanan yang ditentukan hingga tekanan uapnya tersebut jenuh. Selanjutnya diasumsikan bahwa kondensasi terjadi pada pori-pori kecil dan persamaan Kelvin bisa digunakan untuk menemukan pori terbesar di mana gas, misalnya nitrogen, bisa mengembun. Perbedaan tekanan gas bisa digunakan untuk melihat distribusi pori adsorben. Porosimetri merkuri adalah suatu teknik yang diterapkan untuk menentukan distribusi pori. Mula-mula, semua gas dihilangkan dari adsorben lalu kemudian tekanan digunakan untuk mendesak merkuri memasuki pori. Sebaran ukuran pori bisa diukur dari kurva volume-tekanan (Critenden dkk, 1998).

Gambar 3: Ilustrasi adsorpsi pada karbon aktif.

Pori adsorben dengan rentang ukuran yang luas digunakan pada pemurnian cairan dan aplikasi pemisahan zat. Sebagian besar adsorben tersebut dibuat di pabrik tapi beberapa lain diantaranya seperti beberapa jenis zeolit terbentuk secara alami. Tiap material adsorben memiliki karakteristiknya tersendiri seperti porositas, struktur pori, dan sifat adsorpsi permukaan. Tiap ciri ini bisa memainkan peran dalam proses pemisahan. Jangkauan kemampuan adsorben pada proses pemisahan molekul A dari molekul B diketahui sebagai bagian keselektifannya. Bilangan pemisahan zat a menunjukkan nilai numerikal keselektifan adsorben yang didefinisikan sebagai berikut (Critenden dkk, 1998):

aa = (xi : yi)/(Xj : Yj)

Dapat dilihat Xi dan Yi secara jelas merupakan ekuilibrium fraksi/pecahan mol dari komponen i dalam zat teradsorpsi dan fase cair secara bertutut-turut. Dalam praktiknya, satuan X dan Y  bisa diubah untuk menyesuaikan dengan sistem dalam penelitian, camkan bahwa penting di penelitian komparatif untuk a supaya tetap nondimensional. Sebagai contoh, Xj dapat melambangkan muatan komponen j adsorben dalam satuan mg/g ketimbang pecahan mol. Keselektifan adsorpsi suatu adsorben mungkin pula menampakkan dirinya dalam satu atau beberapa cara dalam suatu proses pemisahan zat.

a)     Keselektifan mungkin terjadi karena perbedaan ekuilibrium termodinamika di tiap adsorbat-adsorben; Ini sering dikenal sebagai efek ekuilibrium.

b)    Keselektifan mungkin terjadi karena perbedaan nilai (kemampuan) perpindahan beragam adsorbat saat menuju struktur internal adsorben; ini sering dikenal efek kinetik.

c)     Bukaan pori adsorben mungkin terlalu kecil untuk dipenetrasi satu atau lebih jenis adsorbat; ini sering dikenal sebagai efek saringan molekular adsorben dan bisa dianggap sebagai kejadian ektrem dari efek kinetik.

d)    Keselektifan mungkin terjadi karena beberapa jenis adsorbat didesorpsi dari adsorben, sedangkan yang lain tidak; ini umumnya dikenal sebagai efek desorpsi.
           
            Faktor-faktor yang memengaruhi ekuilibrium pemisahan molekul tergantung pada sifat interaksi alami adsorbat-adsorben pada permukaan adsorben, apakah itu, adsorben yang polar, nonpolar hidrofilik (larut dalam air), hidrofobik (tidak larut dalam air), dsbg (Ecochemical, 2009); ini juga masih dipengaruhi kondisi proses adsorpsi seperti suhu, tekanan, dan konsentrasi. Pemisahan zat secara kinetik umumnya bisa dilakukan hanya oleh saringan molekular adsorben seperti pada zeolit dan saringan karbon. Keselektifan kinetik adsorben dalam kasus ini banyak ditentukan oleh rasio sebaran mikropori adsorbat. Demi proses pemisahan zat secara kinetik yang lebih baik, ukuran mikropori adsorben harus dapat dibandingkan dengan dimensi molekul adsorbat yang tersebar (Critenden dkk, 1998).
            Lebih dari satu mekanisme pemisahan bisa dieksploitasi pada beberapa penerapan namun, pada mekanisme khusus lainnya ini justru bisa kontraproduktif. Perhatikan contoh pemisahan antara oksigen dengan nitrogen. Ekuilibrium muatan nitrogen jauh lebih besar dari oksigen dan argon, oleh karenanya memungkinkan untuk menggunakan efek ekuilibrium zeolit 5A agar lebih mengadsorpsi nitrogen dari udara supaya tercapai kemurnian oksigen yang relatif tinggi. Dalam praktiknya, kemurnian oksigen lewat proses yang secara komersial sukses ini terbatas pada nilai maksimal 96% karena argon (terkandung di udara dalam konsentrasi sekitar 1%) tidak begitu teradsoprsi yang menyebabkan ia tetap ada dalam produk oksigen.

Gambar 4: Sketsa isoterm ekuilibrium oksigen, nitrogen, dan argon
pada z
eolit 5A pada suhu 200C. (Sumber: Critenden dkk, 1998)

Gambar 5: Sketsa isoterm ekuilibrium oksigen dan nitrogen pada
saringan m
olekular karbon pada suhu 200C. (Sumber: Critenden dkk, 1998)

Untuk jenis adsorben karbon jelas bahwa perbedaan ekuilibrium isoterm adsorben ini (gambar 5) mungkin tidak cukup membuat proses pemisahan oksigen dan nitrogen menarik secara komersial. Gambar 6 betapapun menunjukkan bahwa nilai penyerapan oksigen oleh saringan molekular karbon 40-50 kali lipat dari nitrogen, khusunya pada menit-menit awal. Alasan untuk kejadian ini walau sementara belum sepenuhnya dipahami namun diasosiasikan dengan efektifitas penyebaran molekul oksigen yang lebih besar ketimbang efektifitas penyebaran molekul nitrogen pada saringan molekular karbon. Maka itu jelas, untuk memproduksi nitrogen dengan kemurnian tinggi dari udara menggunakan saringan molekular karbon membutuhkan waktu adsorpsi yang relatif cepat dikarenakan terjadinya eksploitasi efek kinetik adsorben-adsorbat dan tidak bekerjanya efek ekuilibrium secara signifikan.

Gambar 6: Sketsa tingkat penyerapan fraksional oksigen dan
nitrogen pada saringan molekular karbon
. (Sumber: Critenden dkk, 1998)

Produksi nitrogen dengan kemurnian tinggi lewat tekanan yang berubah-ubah menggunakan saringan molekular karbon sejauh ini merupakan proses komersial yang sukses (Critenden dkk, 1998).
            Pemisahan etanol menggunakan zeolit 3A adalah contoh bagus dari efek saringan molekular. Zeolit 3A memiliki ukuran pori 0,29 nm yang mana lebih besar dari molekul air yang diameternya 0,26 nm. Ini artinya molekul air bisa masuk melewati pori-pori kristal. Etanol memiliki diameter molekul sekitar 0,45 nm dan karenanya tidak bisa masuk ke pori-pori kristal. Jenis zeolit lainnya juga bisa menggunakan efek saringan molekular. Dalam rangka menahan pengaruh lingkungan, adsorben biasanya diproduksi dalam bentuk granular, bulat, atau silinder berongga dengan rentang ukuran paling sering sekitar 0,5-8 mm. Bentuk khusus seperti ekstrudat tri-lobus juga tersedia untuk tujuan menjaga hilangnya tekanan supaya tetap kecil ketika adsorben dimuat ke dalam bejana. Bentuk lain yang juga diproduksi untuk keperluan khusus misalnya berupa bubuk atau monolit (pelet). Beberapa material adsorben, khususnya zeolit, membutuhkan zat pengikat dalam rangka tidak hanya menimbulkan kekuatan mekanikal namun pula menyediakan struktur makropori yang cocok supaya molekul adsorbat bisa masuk menuju struktur mikropori internal (Critenden dkk, 1998).



Daftar pustaka:
Crittenden, Barry dan W. J. Thomas (1998). Adsorption Technology & Design. United Kingdom: Elsevier Science & Technology Books.

Ecochemical(2009). Hidrofilik Vs Hidrofobik. 25Mei 2014

Minggu, 15 Februari 2015

Pilihan Tema Skripsi Teknik Lingkungan

Skripsi adalah hal yang paling penting bagi mahasiswa Strata 1. Skripsi adalah syarat mutlak untuk mendapat gelar sarjana. Skripsi menentukan kelangsungan studi seorang mahasiswa. Skripsi harus dipertanggungjawabkan di hadapan dosen pembimbing dan penguji. Skripsi merupakan pembuktian bagi kuliah yang selama ini mahasiswa jalani. Skripsi pasti jadi momok jika kalian tidak mengerti apa yang ditulis. Tiap fakultas memiliki ciri bidang skripsinya masing-masing. Secara garis besar penelitian, termasuk skripsi, digolongkan jadi tiga kategori: eksplanasi, deskripsi, dan eksplorasi.
            Mahasiswa teknik lingkungan beberapa ada yang memilih penelitian berbasis kimia atau biologi terapan. Penelitian berbasis kimia atau biologi biasanya dimanifestasikan ke dalam pembuatan suatu alat sederhana yang mendukung tujuan penelitian. Masalah yang di-skripsi-kan atau diteliti haruslah yang tengah terjadi di lapangan (aktual) dan penting. Maksud dan tujuan penelitian dalam skripsi mahasiswa teknik lingkungan wajib mampu terjawab pada kesimpulan. Skripsi teknik lingkungan tidak harus memiliki hipotesis. Berikut, ide-ide tema skripsi teknik lingkungan bagi kalian mahasiswa tingkat akhir:

1.     Penurunan (Removal)
Tema ini merupakan spesialisasi teknik lingkungan lantaran yang diteliti adalah penanganan pencemaran. Penelitian penuruan pencemaran dilakukan dalam skala lab yang sistem reaksinya bisa batch atau kontinu. Batch artinya selama pereaksian tidak ada bahan yang masuk atau keluar. Kontinu artinya reaksi terjadi selama pelaluan bahan pada reaktor untuk waktu kontak/singgung tertentu. Pada sistem kontinu bahan yang masuk ke reaktor selalu baru atau bisa juga dari resirkulasi. Tema penurunan bisa meneliti dua perlakuan atau lebih. Penelitian penurunan yang umum di teknik lingkungan seperti: penurunan BOD dan COD dari limbah cair dengan menggunakan eceng gondok; penurunan konsentrasi logam dalam limbah cair dengan menggunakan adsorben. Penelitian penurunan membutuhkan pengulangan minimal tiga kali dengan jumlah sampel paling sedikit tiga puluhan. Penelitian penurunan butuh biaya lab yang tidak sedikit namun cenderung lebih simpel diselesaikan dibanding tema penelitian teknik lingkugan yang lain.

2.     Eksperimen Produksi
Penelitian ini umumnya bertujuan untuk pemanfaatan limbah. Contoh penelitian jenis ini seperti: pembuatan pupuk cair dari limbah tahu; pemanfaatan urin untuk membangkitkan listrik; pemanfaatan limbah cair tahu untuk menghasilkan biogas; pemanfaatan kotoran hewan untuk menghasilkan biogas. Tiap perlakuan tertentu terhadap limbah diselidiki keefektifan dan optimasinya dalam menghasilkan zat yang diinginkan. Misalnya pengaruh dosis bakteri starter pada limbah cair tahu dalam menghasilkan biogas. Tema penelitian ini menuntut kelengkapan alat.

3.     Perencanaan
Tema penelitian berikut adalah yang paling rumit diantara tema yang lain. Karena yang harus anda lakukan adalah mencari calon proyek yang nyata, mengumpulkan data lengkap termasuk soal pendanaan dan ketersediaan lahan, menghitung teliti perencanaan bangunan pengolahan limbah, rencana anggaran biaya (RAB), serta yang pasti harus menggambar detail desain tiap unit instalasi anda. Biasanya yang direncanakan oleh penelitian adalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Penelitian perencanaan adalah yang paling murah diantara beberapa tema skripsi yang lain. Tapi, perencanaan menuntut penguasaan ilmu teknik yang memadai dan sebab itu pulalah jumlah dosen yang mampu jadi pembimbing tema skripsi ini pun kadang terbatas. Sering kali karena kepalang penuhnya kuota bimbingan seorang dosen perencanaan, anda yang tadinya sudah siap dengan tema ini jadi harus ganti pengajuan judul.

4.     Evaluasi
Penelitian ini bertujuan untuk menilai kesesuaian suatu kegiatan dengan keadaan ideal yang dipersyaratkan aturan dan keilmuan teknik. Misalnya evaluasi drainase, SMK3, kinerja pengolahan dan pengelolaan limbah, pengaruh polusi udara terhadap kandungan timbal dalam darah, atau tata letak pabrik sesuai kaidah lingkungan. Tema penelitian ini kerap terkendala pada penghimpunan data. Setelah mengevaluasi anda harus memberikan beragam saran teknis. Sesekali evaluasi bisa jadi amat rumit contohnya jika mengulas IPAL suatu instansi maka kalian juga harus membuat rekomendasi perencanaan pembenahan serta menguji karakteristik limbah yang diolah IPAL tersebut di lab. Evaluasi IPAL jelas kerja berat lantaran anda harus melengkapi segala data administrasi, cetak biru IPAL, dan pemantauan berkala kualitas limbah oleh instansi tersebut yang ditambah dengan perancangan ulang.

Kamis, 05 Februari 2015

Distribusi Mata Kuliah Teknik Lingkungan



Bagi jurusan teknik lain mungkin pelajaran teknik lingkungan itu melulu soal sampah padahal ada banyak sekali hal yang dipelajari dari mulai kesehatan hingga perencanaan bagunan pengolahan air. Untuk menjadi sarjana teknik lingkungan seorang mahasiswa harus menyelesaikan kuliah dengan total 145 SKS. Berikut adalah distribusi mata kuliah teknik lingkungan:

SEMESTER I
Mata Kuliah
SKS
Agama
2
Pendidikan Pancasila
2
Fisika Dasar I (2+1)
3
Kalkulus I
3
Kimia Dasar I
2
Ekologi/Pengetahuan Lingkungan
2
Konsep Teknologi
2
Menggambar Teknik
2
Bahasa Indonesia
2
Total
20

SEMESTER II
Mata Kuliah
SKS
Bahasa Inggris
2
Pendidikan Kewarganegaraan
2
Fisika Dasar II
2
Kalkulus II
3
Kimia Dasar II
2
Pemrograman Komputer
2
Pengantar Teknik Lingkungan
2
Total
15

SEMESTER III
Mata Kuliah
SKS
Ilmu Sosial Budaya Dasar
2
Meteorologi-Klimatologi Lingkungan
2
Biologi/Mikrobiologi Lingkungan
2
Kimia Lingkungan
2
Perpetaan Untuk Studi Lingkungan
2
Menggambar Perencanaan
2
Fisiografi Lingkungan
2
Ekonomi Lingkungan
2
Matematika Rekayasa
3
Total
19

SEMESTER IV
Mata Kuliah
SKS
Fisika Lingkungan
2
Hidrologi Lingkungan
2
Laboratorium Lingkungan (2+1)
3
Satuan Proses
2
Sistem Informasi Lingkungan (2+1)
3
Penyaluran Air Buangan/Drainase
2
Penyediaan Air Minum
2
Teknologi Bersih
2
Total
18

SEMESTER V
Mata Kuliah
SKS
Pengetahuan Struktur
2
Bahasa Inggris Teknik
2
Mekanika Fluida Dasar
2
Satuan Operasi
2
Epidemiologi dan Kesehatan Lingkungan
2
Perencanaan Bangunan dan Pengetahuan Air Buangan (TB)
3
Perencanaan Bangunan dan Pengetahuan Air Minum (TB)
3
Sanitasi Lingkungan Perkotaan
2
Pengelolaan Persampahan
2
Total
20

SEMESTER VI
Mata Kuliah
SKS
Plumbing, Instalasi, dan Peralatan Instrumen
3
Mekanika Fluida Lanjut
2
Sanitasi Makanan dan Lingkungan
2
Perencanaan Kota dan Wilayah
2
Pengelolaan B3
2
Pengelolaan Kualitas Lingkungan
3
Pengelolaan/Manajemen Lingkungan
2
Pengelolaan Buangan Industri
2
Total
18

SEMESTER VII
Mata Kuliah
SKS
Kerja Praktek
2
Mata Kuliah Pilihan
2
Statistik Lingkungan
2
Pengelolaan K3
2
Hukum Lingkungan
2
Pengelolaan Pencemaran Udara
2
Teknologi Bersih Pengelolaan Buangan Industri
2
Kewirausahaan dan Pengantar Bisnis
2
Metodologi Penelitian Lingkungan
2
Total
18

SEMESTER VIII
Mata Kuliah
SKS
Skripsi/Tugas Akhir
4
Mata Kuliah Pilihan
2
AMDAL
3
Higiene Perusahaan dan Lingkungan
2
Teknologi Bersih Pengolahan B3
2
Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan
2
Seminar Usulan Penelitian (Proposal)
1
Seminar Hasil Penelitian
1
Total
17

MATA KULIAH PILIHAN

Mata Kuliah
SKS
Pengelolaan Sumber Daya Air
2
Pengelolaan Sumber Daya Lahan
2
Pengelolaan Sumber Daya Pesisir
2
Konservasi Tanah dan Air
2
Konservasi Energi
2
Perencenaan Permukiman Perkotaan
2
Tata Ruang Kota
2
Teknologi Bersih Pengolahan Limbah Agroindustri
2
Teknologi Bersih Pengolahan Limbah Rumah Sakit
2
Vektor Kontrol
2
Rekayasa Proses Hayati/Bioteknologi
2
Pemodelan Sumber Daya Alam
2
Toksikologi Lingkungan
2
Hidrolika Air Tanah
2


                Kode (2+1) artinya kuliah tersebut terdiri atas dua SKS teori dan satu SKS untuk praktek. Kode (TB) berarti kuliah tersebut mewajibkan tugas besar berupa gambar perencanaan bangunan beserta uraian teori, asumsi, perhitungan fisik, dan RAB-nya. Mahasiswa wajib mengambil dua mata kuliah pilihan seperti yang ada dalam daftar. Selain yang tertera pada daftar distribusi ini mahasiswa teknik lingkungan juga wajib mengikuti pelatihan lain seperti menggambar teknik, skil laboratorium fisika-kimia dasar, dan mekanika fluida. Informasi distribusi mata kuliah ini diharapkan memberi gambaran pada calon mahasiswa atau peminat teknik lingkungan tentang apa yang nantinya dipelajari. Informasi ini juga diharapkan berguna bagi masyarakat umum.