Engineering; Game; Sosial; Blogging; Lingkungan; Kuliah; Psikologi Populer; Download; Sejarah; Film; Umum| SELAMAT DATANG DI GUNARMAN.BLOGSPOT.COM| Blog kecil padat informasi|

Kamis, 12 Mei 2016

Realita Sarjana Teknik Indonesia di Dunia Kerja

Hal pertama yang harus kita semua pahami bahwa tidak murah apalagi mudah untuk menjadi seorang sarjana. Hal kedua yang juga patut dicamkan adalah bahwa jenjang akademis dan profesi merupakan dua hal yang berbeda. Lulusan S1 Kedokteran bergelar sarjana kedokteran (S. Ked) sedangkan sarjana kedokteran yang bekerja di bidang kedokteran bergelar Dokter. Rata-rata fresh graduate berpikir, makin tinggi jenjang akademis maka akan kian mudahlah dalam mencari kerja, padahal tidak begitu. Mereka pikir industri menilai S2, S3, dan seterusnya merupakan indikasi level profesionalisme. Dunia kerja hanya mempersyaratkan fresh graduate berpendidikan S1 atau setara dengan penguasaan beberapa keahlian spesifik dan akan jauh lebih baik lagi bila diimbuhi sedikit pengalaman kerja di bidang terkait.

Pola pikir “Jenjang akademis = jenjang profesi” malah menjadikan kita terlalu fokus pada nilai dan mengabaikan ilmu. Kita belajar untuk ujian (menghafal) bukannya untuk paham. Alhasil begitu selesai ujian segala materi kuliah yang sudah susah-payah dipelajari menguap entah ke mana. Kita menganggap kian cepat lulus plus IPK di atas rata-rata akan menempatkan kita pada ranking teratas di tiap lowongan. Industri memang mempersyaratkan IPK tapi, nilainya rata-rata cukup 3,00 saja. Segala keganjilan paradigma ini membawa sebagian besar sarjana Indonesia terjerumus dalam status “Tenaga kerja berijazah” dan bukan “Tenaga kerja terdidik”.

Nistanya status ini sudah saya temui sendiri dalam pekerjaan sebagai konsultan teknik. Rasa heran bercampur geram berkecamuk di hati dan pikiran saya tatkala tiap kali melihat dokumen-dokumen perencanaan yang miskin (kalau tidak mau dibilang nihil) unsur analisis keilmuannya. Semuanya dibuat tipikal, dalam artian desain dan perhitungannya mengikuti apa yang sudah ada belaka. Misalnya jika kita merancang jembatan maka bukan analisa-analisa matematika teknik super jelimet yang keluar dalam dokumen tersebut melainkan hanya asumsi-asumsi cap-cip-cup. Tinggal lihat spesifikasi, pilih jenis jembatan apa, lebarnya berapa, bentangnya berapa, dan kategori bebannya apa, dst lalu buat gambar kerja dan RAB. Semuanya sudah tinggal cocok-cocokan, “Jika bebannya sekian maka bahan bakunya ... ; jika bentangya sekian maka kualitas betonnya ...” begitu instannya.

Kalau sudah begini dunia kerja sarjana teknik, wajar saja orang-orang enteng berujar, “Konsultan teknik itu modalnya cuma kertas.” dan saya agak sulit untuk tidak tersinggung dengan pernyataan tersebut. Sudah desainnya tipikal, tidak jarang kurang cocok dengan penerapannya di lapangan pula. Kontraktor yang biasa menemui desain ngaco konsultan teknik memegang sejenis etika ‘tak tertulis untuk tidak lekas mengajukan ubah kontrak (misalnya ketika konstruksi baru berjalan seminggu) lantaran pelaksanaan pasti meleset jauh dari perencanaan. Kontraktor biasanya baru mengubah kontrak sekitar setengah perjalanan konstruksi, semata demi melindungi para perencana dan pejabat pengesah produk perencana dari temuan auditor maupun penegak hukum.

Pengalaman getir mengerjakan produk konsultan teknik juga pernah saya dengar langsung dari seorang kontraktor spesialis air minum. Dia menceritakan, pernah suatu kali ia menemui proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) yang tujuannya untuk mengalirkan air permukaan ke area distribusi namun, dalam dokumen perencanaanya tidak terdapat intake (bangunan penyadap air). Bagaimana bisa air permukaan masuk ke pipa kalau tidak ada intake? Ujungnya kontraktor ini mau-tidak mau harus membangun intake bendung yang jelas-jelas tidak dihitung dalam nilai kontrak. Karena melaksanakan volume kerja ekstra dengan nilai kontrak tetap, kontraktor ini menderita besar dengan hanya mendapat keuntungan lima juta rupiah saja. Lagi-lagi kontraktor tidak mau mengajukan ubah kontrak karena ingin melindungi perencana dan pejabat pengesah produk perencana. Saya tidak tahu apa perencanaan tersebut benar dikerjakan sarjana teknik atau bukan, sebab kalau iya maka jelas ini sangat memalukan.

Itu baru cerita dari para kontraktor belum lagi dari cerita saya yang bekerja sama dengan konsultan-konsultan teknik senior. Saya, terus terang, sangat kecewa ketika menemui bahwa panjangnya pengalaman kerja di bidang teknik ternyata tidak membuat ilmu seorang sarjana teknik makin dalam dan komprehensif, justru sebaliknya. Berbelas-belas tahun pengalaman kerja di bidang teknik, malah membuat para sarjana teknik ini kian melupakan analisa-analisa teknik. Kasar kata, sarjana-sarjana teknik ini kian tahun bekerja teknik kian pola pikirnya merosot hingga selevel mandor atau bahkan tukang.

Makin lucu lagi ketika ada konsultan teknik senior merasa tidak mau kalah dengan saya yang baru kemarin sore jadi konsultan teknik. Kali ini kasusnya adalah menghitung estimasi biaya proyek. Kebetulan proyek tersebut nilainya ratusan miliar. Saya dari awal mengajak beliau untuk berpikir simpel dengan mengambil beberapa asumsi-asumsi saja karena memang taksiran akurat baru bisa jatuh setelah detail engineering design (detail desain teknis). OK! Saya turuti orang tua ini. Hari demi hari berjalan dan deadline terus mendekat namun apa yang selesai dihitungnya baru beberapa item saja. Saya tidak bisa terlalu banyak bantu karena estimasi tersebut bidangnya sarjana teknik sipil.

Sampailah kami pada deadline dan hasil estimasi harus sudah dikaji oleh  Boss. Begitu rapat, si Boss dengan lancar mengeluarkan asumsi-asumsinya yang memang berdasarkan puluhan tahun pengalaman beliau di bidang air minum. Kami pun langsung menghitung asumsi-asumsi tersebut. Akhirnya estimasi selesai dalam hitungan jam dan siap dikirim ke Kementerian. Apa yang coba saya sampaikan adalah, rekan saya yang konsultan teknik senior ini kalau diajak berpikir simpel tidak mau (mungkin karena takut dinilai kurang pakar) tapi, diajak berpikir rumit (analitis) juga tidak mampu.

Maka jangan heran kalau ada sarjana ekonomi yang pernah ikut kontraktor sekian belas tahun berani bicara sok analisa teknis di depan para sarjana teknik. Sebab beliau sudah ukur rata-rata isi otak sarjana teknik. Jadi jangan tersinggung juga kalau beliau bilang, “Dosen teknik sipil pun belum tentu bisa mendesain jembatan.”! Pernyataan orang non-sarjana teknik yang bernada menantang bahkan melecehkan seperti ini memang wajar kita evaluasi. Seorang konsultan teknik senior lain juga sempat curhat bahwa kesarjanaanya tidak dipandang oleh khalayak. Bila merunut dari cerita-cerita di atas rasanya aneh kalau Om ini mengeluh begitu.

Akhir kata, bagi siapapun yang membaca tulisan panjang ini, tidak ada sedikitpun maksud saya untuk menganggap diri lebih baik dan benar dari rekan sarjana teknik lain. Saya hanya ingin pada siapapun rekan sarjana teknik yang bekerja atau nantinya berminat kerja di bidang teknik untuk terus menjaga wibawa fakultas kita. Kuliah bukan hanya cari ijazah. Kuliah itu seperti mencari bocoran pengalaman ribuan praktik orang terdahulu supaya ke depannya di dunia kerja kita tidak sering melakukan trial and error. Jadi sesungguhnya (oleh industri) kita diharapkan harus langsung paham jika diberi satu-dua kali arahan, karena sudah dapat bocoran pengalaman orang selama di bangku kuliah.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar