Engineering; Game; Sosial; Blogging; Lingkungan; Kuliah; Psikologi Populer; Download; Sejarah; Film; Umum| SELAMAT DATANG DI GUNARMAN.BLOGSPOT.COM| Blog kecil padat informasi|

Senin, 15 Februari 2016

Apa Rasanya Kerja?

Well, kerja memang selalu dikaitkan dengan mata pencarian padahal tidak semua pekerjaan menghasilkan uang salah satu contohnya adalah sekolah. Supaya tidak meluas baiknya kita sempitkan dulu pembahasan tentang kerja menjadi mata pencarian yang statusnya sebagai pegawai.

Apa rasanya kerja? Setidaknya ini pertanyaan besar saya sejak TK hingga SMA. Setelah lulus SMA saya coba bekerja sebagai operator warnet. Apa rasanya kerja sebagai operator warnet? Jawabannya: membosankan dan penuh tekanan. Kenapa membosankan? Karena saya masuk tiap hari dari jam delapan pagi hingga jam setengah tujuh maghrib. Kenapa penuh tekanan? Karena ternyata operator warnet juga harus merangkap teknisi. Saya dipaksa mengerti tiap karakteristik PC—baik perangkat keras dan lunaknya—yang saya pantau operasinya. Tiap masalah harus cepat ditangani dan semua pertanyaan pelanggan harus langsung terjawab seakan-akan saya ini Google. Ini jelas terlalu berat. Kerja 10,5 jam tiap hari plus peran ganda namun, hanya digaji Rp500.000/bulan adalah hal yang menyengsarakan. Untunglah ini tidak berlangsung terlalu lama lantaran saya harus mulai masuk kuliah sebulan kemudian.

Nah, begitu lulus kuliah inilah saya baru mencari pekerjaan yang sebenarnya. Saya lulus S1 bulan Desember 2014, baru terima surat keterangan lulus Februari 2015, sedangkan ijazah menyusul kemudian pada Mei 2015. Sejak Desember 2014 hingga Mei 2015 saya sudah menebar sekitar 30-an lamaran via pos dan 20-an via online. Sekian banyak lamaran yang saya tebar ke Perusahaan-Perusahaan di daerah Banten, Jakarta, dan Lampung hanya ada satu yang memanggil yaitu PT. Mandala Finance. Syukurlah saya bisa melaju ke seleksi tahap final yakni wawancara dengan user pusat PT. Mandala Finance walau akhirnya gagal. Tidak apalah, namanya juga perjuangan.

Kemudian pada sekitar pengujung Mei 2015 saya menemukan lowongan dari teman sejurusan saya di grup Facebook Teknik Lingkungan 2010. Tawaran bekerja di konsultan lingkungan sebagai staff dengan gaji hanya Rp1.500.000 tanpa uang lembur dan asuransi kesehatan. Angka ini bahkan lebih kecil dari gaji adik saya yang sekitar Rp.1.700.000 plus lembur dan jaminan kesehatan. Padahal adik saya hanya lulusan SMK. Hati tanpa ragu jelas langsung menolak lowongan tersebut tapi ternyata tidak otak saya. Rasio saya berkata bahwa jauh lebih baik jadi pekerja bergaji kecil ketimbang pengangguran. Saya malu merepotkan Ayah-Ibu sejak dalam kandungan hingga jadi sarjana. Singkat cerita akhirnya saya ambil peluang tersebut dengan mengantarkan lamaran yang di hari sama dilanjutkan dengan wawancara user. Syukurlah, saya diterima di sana dan mulai kerja minggu depan.

Inilah pekerjaan pertama saya yang ternyata menyenangkan dan menantang. Menyenangkan karena staff di sini nyaris semuanya sebaya; menantang karena Bos menekan saya harus mampu mengerjakan kegiatan-kegiatan layaknya seorang yang sangat berpengalaman. Awalnya memang terasa gila tapi setelah dilalui ternyata terletup sejenis perasaan senang dan puas yang adiktif. Sejak itulah saya mulai berpikir kalau di Perusahaan ini saya sebenarnya sedang belajar dan dibonusi uang saku bulanan. Dengan berpikir begitu gaji tersebut tidak lagi terasa kecil dan saya pun kian fokus melahap tiap tantangan yang diberikan Bos.

Kebiasaan saya sebagai operator warnet membuat saya peka terhadap kendala yang dialami komputer beserta perangkat-perangkat tambahannya. Kepekaan inilah yang menggerakkan saya untuk mengatasi tiap kendala TI di sana bahkan sebelum dikeluhkan. Saya rajin mengecek kondisi tiap PC dan laptop rekan sekantor. Saya juga membantu Bos memahami pentingnya investasi fasilitas TI dalam bidang konsultansi. Luar biasa, ternyata Bos merespons dengan membelikan kami tiga PC baru di luar pembelian satu PC khusus untuk drafter. Sebelum membeli PC Bos bertanya pada saya spesifikasi apa yang dibutuhkan dan saya pun menanggapinya dengan mengajukan spesifikasi yang sesuai beserta hitung-hitungan rinci. Selain itu Bos juga menaikkan kapasitas internet kantor karena saya rajin menggalakkan berbagi file-file kecil lewat e-mail untuk menggantikan flash disk.

Selanjutnya, pada sekitar Oktober saya diperintahkan Bos untuk ke Bengkulu menjernihkan suramnya proyek beliau di sana. Karena sepertinya keadaan ini begitu menantang dan tim yang sudah ada di sini pun juga kekurangan tenaga maka, saya bulatkan tekad untuk tinggal di Bengkulu hingga proyek selesai. Proyek di sini jauh lebih gila dari yang saya pikirkan. Lima kegiatan seharga total ±1,7 miliar rupiah dengan kontrak enam bulan (Mei s/d Desember 2015) diselesaikan hanya dalam dua bulan dengan rincian: satu bulan survey dan satu bulan sisanya full mengerjakan laporan beserta seminar-seminarnya. Semua orang sudah tegang ini akan putus kontrak atau jadi temuan BPK. Untunglah semua selesai tepat waktu berkat kerjasama tim dan koordinasi yang amat intens.

Atas keberhasilan ini, Bos saya bahkan salut dan menggadang-gadangkan saya sebagai leader atau lebih besarnya lagi pimpinan kantor. Tidak lama setelah pulang ke kantor Lampung yaitu pada 4 Januari 2016 sebuah telepon dari PPTK kegiatan Bengkulu kemarin berdering. Beliau menawarkan saya untuk jadi konsultan individu unit pelaksana teknis daerah (UPTD) air minum regional Kota Bengkulu, Kab. Bengkulu Tengah, dan Kab. Seluma. Gajinya memang menarik namun konsekuensinya saya harus pindah ke Bengkulu. Saya pun meminta waktu untuk berpikir selama seminggu. Keputusan akhirnya dibuat dan saya ambil tawaran Bapak tersebut. Selanjutnya pada 1 Februari saya mulai bekerja di Bengkulu.

Berat untuk pindah ke Bengkulu karena di sana belum semaju Bandar Lampung, kota asal saya. Tapi, jika ditimbang lagi sebenarnya Bandar Lampung pun baru kelihatan maju signifikan sejak 2009, bukan tidak mungkin Kota Bengkulu juga bisa mengalami hal serupa. Selain itu pula jarak Bandar Lampung-Bengkulu hanya sekitar 12 jam perjalanan mobil. Tidak terlalu jauh jika memang saya jenuh di Bengkulu dan ingin mengunjungi Ayah-Ibu di rumah. Saya juga sebetulnya masih penasaran untuk lebih jauh menjelajahi Curup dan Lebong. Kebetulan saya ada kawan akrab di Curup. Saya juga mendapat ide untuk memenuhi keinginan yang sulit dicari atau tidak ada di Bengkulu yaitu lewat belanja online. Jadi sebenarnya Bengkulu menurut saya tidak seburuk itu.

Lewat cerita saya yang agak panjang di atas mungkin sebagian kalian dapat menangkap siratan bahwa kerja itu melelahkan. Tentu saja. Namun, lelah belum tentu menyiksa. Lelahnya bekerja kadang bisa buat ketagihan. Jelas anda mustahil mengalaminya kalau kerja di bidang yang tidak anda nikmati. Peganglah prinsip bahwa sebelum mendapat pekerjaan yang lebih baik anda harus punya “Kualitas” yang dalam hal ini dibutkikan dari pengalaman kerja. Lalu, bagaimana bisa anda punya pengalaman kerja bila terlalu pilih-pilih? Ambil kesempatan apapun yang ada! Buktikan berapa sebenarnya posisi gaji anda selama bekerja dan lihat hasilnya!

Bekerja di warnet membuat saya belajar kerja ikhlas. Bekerja di konsultan lingkungan mengajarkan saya penerapan ilmu lingkungan, berurusan dengan orang hebat, dan tetap waras walau di bawah tekanan dahsyat. Bagi saya upah itu terbagi tiga: (1) uang, (2) pengalaman, dan (3) kepercayaan. Serap sekecil apapun pengalaman yang ada dalam tugas wajib anda! Perjuangkanlah segala cara benar untuk mendapat kepercayaan baik dari atasan, bawahan, rekan kerja selevel, atau bahkan orang luar! Kian banyak pengalaman dan kepercayaan yang anda punya maka uang pun akan mengikuti. Tulisan saya ini semata berbagi. Semoga tidak ada yang merasa dikuliahi!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar