Engineering; Game; Sosial; Blogging; Lingkungan; Kuliah; Psikologi Populer; Download; Sejarah; Film; Umum| SELAMAT DATANG DI GUNARMAN.BLOGSPOT.COM| Blog kecil padat informasi|

Senin, 09 Februari 2015

Pemulung di TPA Adalah Orang Susah?

Keseharian di TPA sampah.
Bergelut dengan sampah tiap hari; baju kotor-kumal; Sepanjang waktu menyandang keranjang rotan besar; gancu tidak pernah lepas dari tangan; badan bau; jauh dari kesan mewah. Semua itu merupakan ciri pemulung di tempat pengolahan akhir (TPA) sampah. Banyak yang iba pada kehidupan mereka. Tidur di gubuk-gubuk yang terbuat dari barang-barang bekas sambil mengasuh anak-anak yang masih kecil merupakan pemandangan lazim di TPA sampah. Banyaknya anak kecil yang bermain di jam sekolah membuat banyak orang yang melihatnya berpikir bahwa Bapak-Ibu mereka tidak mampu menyekolahkan. Melihat hal-hal tadi mayoritas orang tua niscaya bakal melarang anaknya untuk jadi pemulung di TPA sampah.

Kunjungan mahasiswa Teknik Lingkungan Universitas Malahayati
Bandar Lampung ke TPA Bakung 2012.
Salah satu sisi TPA Bakung.
Kesibukan pemulung di TPA Bakung.
            Tapi, berdasarkan kunjungan saya ke TPA Bakung yang terletak di Kecamatan Bakung, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung pada 12 Oktober 2012 ternyata kehidupan pemulung di sana tidak senahas yang kita pikirkan. Saya ke sana bersama teman-teman Teknik Lingkungan yang sedang mengambil mata kuliah persampahan dalam rangka peninjauan langsung kondisi pengelolaan sampah di kota Bandar Lampung. Kami tadinya hanya melihat-lihat di sana dan bertanya-tanya pada PNS Pengelola TPA Bakung seputar persampahan kota Bandar Lampung. Namun, karena saya butuh bahan tulisan blog untuk mengikuti lomba blog Viva-EXTRAJOSS Kurban 2012 makanya saya beranikan bertanya topik lain ke Bapak Kepala Pengelola TPA Bakung. Pertanyaan saya dari mulai kesehatan hingga pendapatan pemulung di TPA Bakung.
            Alangkah terkejutnya waktu saya tahu bahwa ternyata pendapatan pemulung di TPA Bakung paling sial adalah Rp50.000/orang/hari. Jumlahkan saja bila satu keluarga beranggotakan dua anak dan Bapak-Ibu maka pendapatan mereka paling kecil adalah Rp200.000/KK/hari. Menurut pengalaman, biasanya pemulung luar tidak bakal bisa masuk ke suatu TPA sampah tanpa kenalan dalam. Dengan kata lain, TPA sampah biasa dimonopoli oleh segelintir keluarga saja. Saya pun menemukan fakta kenapa banyak anak-anak di sana bebas bermain di jam sekolah. Ternyata banyak dari mereka yang jadi terlalu malas sekolah lantaran sudah tahu enaknya cari duit. Gubuk-gubuk tidak manusiawi di TPA Bakung ternyata pula hanyalah tempat istirahat siang sedangkan, rumah sebenarnya para pemulung terletak tidak jauh dari TPA. Pemulung bisa langsung menjual hasil kaisan mereka pada para perongsok yang berjejer di sepanjang jalan masuk ke TPA Bakung. Bertanya soal kesehatan pemulung TPA Bakung, ternyata mereka semua sehat dan jarang ada yang sakit keras karena tiap hari bergumul dengan sampah.

Anak-anak TPA Bakung sedang bermain di gubuk.
Deretan gubuk peristirahatan di tengah TPA Bakung.
            Menimbang banyak temuan di atas, akhirnya saya urungkan untuk memuat kisah para pemulung TPA Bakung ke rekomendasi kurban Viva-EXTRAJOSS 2012. Lantaran mereka jelas lebih beruntung ketimbang para warga Kampung Jembatan Beton. Saya tidak tahu apakah di TPA sampah lain di Indonesia juga begini tapi setidaknya inilah fakta yang ada di TPA Bakung.


Foto bersama anak Teknik Lingkungan Universitas Malahayati Bandar Lampung
di sisi lain keindahan TPA Bakung.

Download informasi lebih lanjut tentang TPA Bakung.